Tampilkan postingan dengan label Coming Soon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coming Soon. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Agustus 2019

AKU BUKAN PELAKOR (Lanjutan SCUI)


Prolog
                Kehidupan Kanaya yang hancur setelah di campakkan oleh Akbar, ia kembali bertemu dengan seorang pria yang merupakan atasannya di kantor.
                Pria itu tampak penuh perhatian dan menyimpan perasaan kepada Kanaya. Dan perlakuannya membuat Kanaya sedikit risih. Apalagi pria itu sudah menikah dan memiliki istri juga anak-anak yang sudah cukup dewasa.
                Kanaya sedikit tergoda oleh perlakuan bosnya itu yang mampu membantunya melupakan Akbar.
                Hingga suatu hari bosnya itu melamar dia untuk menjadikan Kanaya sebagai istri keduanya.
                Haruskah Kanaya menerima lamaran itu?









Satu
                Sudah satu bulan Kanaya bekerja di sebuah perusahaan jasa pengiriman, sebagai Custamer Service. Kanaya cukup menikmati pekerjaan itu yang sungguh menguras waktunya untuk selalu melayani pelanggan yang datang.
                Waktu istirahat telah datang, Kanaya merenggangkan kedua tangannya dan mengambil handphone miliknya dari dalam laci mejanya. Ada pesan chat masuk kepadanya.
                Ia tertegun saat melihat apa yang ada di layar handphone nya. Chat itu berisi foto keluarga Akbar dengan caption.
                Lupakan dia sekarang, Naya. Dia sudah bahagia dan sekarang kamu gapailah kebahagiaanmu sendiri. Kamu berhak bahagia...

                Kanaya menghela nafasnya lelah. “Andai moveon itu semudah membalikkan tangan, mungkin sudah aku lakukan,” gumamnya.
«»
                “Mau pulang, Naya?” pertanyaan itu menghentikan langkah Kanaya.
                “Pak Hamid?” gumam Kanaya saat seseorang menghentikan mobilnya tepat di sampingnya.
                “Pulang sendirian? Ayo biar aku antar,” seru Hamid diiringi senyumannya.
                “Tidak perlu Pak, kontrakanku dekat dari sini,” seru Kanaya.
                “Tidak masalah, ayo naik. Daripada berjala kaki sendirian. Ini juga sudah malam,” seru Hamid tampak berusaha membujuk Kanaya.
                Kanaya tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya ia setuju dan naik ke dalam mobil Hamid.
                “Bagaimana pekerjaan hari ini? Apa ada lagi nasabah yang membentakmu?” tanya Hamid mencairkan suasana seraya menyetir mobilnya.
                “Alhamdulillah tidak ada Pak, kemarin itu mungkin kebetulan saja aku sedang sial,” kekeh Kanaya.
                “Ah syukurlah kalau begitu.” Hamid tersenyum puas. “Sebenarnya aku sangat salut padamu, lho. Kemarin kamu begitu tenang menghadapi custamer yang menyebalkan itu.”
                “Itu bukan masalah besar, Insa Allah saya akan berusaha menghandle apapun yang merupakan pekerjaan saya,” jawab Kanaya.
                Hamid tanpa sadar memperhatikan wajah Kanaya yang cantik dan ia tersenyum penuh arti.
                “Sudah sampai, Pak.” Kanaya menyadarkan Hamid dari keterpakuannya.
                “Disini?” seru Hamid meminggirkan mobilnya. “Dimana kostan kamu?”
                “Masuk ke gang itu, tidak terlalu jauh hanya terhalang dua bangunan saja. Terima kasih untuk tumpangannya Pak. Selamat malam.”
                Kanaya menuruni mobil Hamid seraya mengucapkan salam dan berlalu pergi.
                “Kanaya, kamu sungguh sangat istimewa,” gumam Hamid tersenyum, kemudian menjalankan mobilnya.
«»
                        Kanaya berdiri menatap jendela di kostannya dengan segelas kopi di tangannya. Bayangannya kembali menerawang ke pesan dari salah satu temannya Wina di Jakarta. Wina mengetahui seluk beluk kisah dirinya dan Akbar.
                        Dan pesannya tadi membuat Kanaya semakin merasa malu dan sangat menjijikan. Sampai detik ini pun kenapa harus merasakan sakit?
                        Aku bukanlah pelakor... itulah jeritan hatinya.
                        Terus berusaha memungkiri walau hati itu masih ada untuk Akbar.
                        Dering handphone menyadarkan lamunannya. Ia berjalan mendekati ranjang dan mengambil handphone nya seraya menyimpan mug gelasnya di atas meja nakas.
                “Wina...” gumamnya dan mengangkat sambungan telpon itu.
                “Hallo Assalamu’alaikum,”
                “....”
                “Alhamdulillah gue baik dan semuanya gak ada masalah.”
                “.....”
                “Lu gak salah, jadi gak perlu minta maaf. Kenyataannya memang Akbar sudah bukan milik gue. Dia sudah menemukan tambatan hatinya.”
                “.....”
                “Itulah yang saat ini sedang gue usahakan. Melupakannya,” gumam Kanaya.
                “....”
                “Lu pikir mudah cari pendamping, apalagi status gue yang seorang janda. Gak akan semudah itu Win.”
                “....”
                “Lu tenang saja, gue gak akan menghubungi dia lagi. Gue akan berusaha melupakan perasaan masalalu gue dan berusaha mengobati luka ini.”
                “....”      
“Lu meragukan gue?”
                “.....”
                “Gue yakin sama Allah. Allah tidak akan menjerumuskan gue ke hal yang negative. Insa Allah gue ikhlas.”
                “.....”
                “Wa’alaikumsalam...”
                “Aku yakin aku bisa melakukan melupakan segala hal tentang Akbar.”
                “Karena aku bukan pelakor.”
                Kanaya bergumam dengan tatapan mata penuh keyakinan.

«»

The Game Demons (Horor)



Prolog
          “Erlina,”
            “Nenek,” gumamnya menatapnya dengan polos.
            “Ayo kita harus pergi dari sini,” ajaknya menarik tangan Erlina. Gadis kecil yang masih berumur 6 tahun.
            “Tapi kita akan kemana?” tanyanya dengan polos.
            “Kita harus pergi dari sini,” ucapnya memaksa Erlina.
            Mereka bergegas mengambil tas yang ternyata sudah di siapkan dan segera beranjak keluar dari rumah petak itu.
            “Nenek, tapi Mama dan Papa akan pulang hari ini,” ucap Erlina.
            “Tidak sayang, mereka tidak akan pulang,” ucap Nenek yang berjalan menuju pintu keluar belakang.
            “Kenapa?”
            “Karena mereka tidak akan pernah kembali,” ucapnya penuh tanda tanya.
            Erlina masih tampak bingung dengan perkataan dari sang Nenek, ia mengikuti langkah Nenek yang terseok-seok karena termakan usia dan sudah tak mampu lagi berjalan jauh.
            “Nenek tidak apa-apa?” tanya Erlina saat Nenek itu memilih duduk di trotoar yang sepi.
            “Erlina, dengarkan Nenek,” ucapnya menggenggam tangan Erlina dengan erat. “Kamu adalah gadis yang sangat kuat, kamu di lahirkan untuk menjadi seseorang yang berarti. Dengar, apapun yang terjadi kau pergilah dan berjalan terus jangan menoleh ke belakang. Di ujung jalan sana, tante Vio menunggumu.”
            “Lalu Nenek?”
            “Jangan pikirkan Nenek,” ucapnya. “Dengar sayang, situasinya tidak mendukung. Kamu harus pergi sekarang juga, dan abaikan apapun yang kamu lihat,” ucapnya.
            “Tapi kenapa?” tanya Erlina kecil yang hendak menangis.
            “Maafkan Nenek, ini salahku.” Nenek memeluk tubuh kecil Erlina dan menyuruhnya segera pergi.
            “Nenek-“
            “Pergi Erlina, sekarang! Jangan menoleh ke belakang apapun yang terjadi,” ucapnya membuat Erlina menurut dan berlari menjauh dengan isakan tangisannya.
*** 
ISTRI BAYARAN


Prolog
            “Sah!”
            Aku menghelas nafas lega saat ucapan sakral itu terlontar. Aku menoleh ke arah pria di sampingku yang duduk dengan tenang dan tatapan lurus ke depan. Entah apa yang dia rasakan saat ini.
            Kami menikah bukan karena sebuah ikatan cinta dan kasih. Kami menikah karena sebuah kesepakatan, sebuah perjanjian yang di setujui oleh kami berdua. Bisa di bilang ini adalah sebuah keterpaksaan.
            Tetapi inilah dan di sinilah kisahku di mulai. Kisahku bersama dengan seorang pria yang sudah pernah menikah sebelumnya. Seorang pria yang dulu pernah menjadi teman satu SMAku. Seorang pria yang dulu pernah aku sukai dalam diam. Seorang pria yang pernah mengambil first kissku. Ya dialah pria itu,,
            Setelah sekian lama berpisah, kini kami harus bersama dalam sebuah ikatan pernikahan tanpa ada cinta.
            Yah, Tanpa Cinta....

Chapter 1
            “Sah!”
            Aku menghelas nafas lega saat ucapan sakral itu terlontar. Aku menoleh ke arah pria di sampingku yang duduk dengan tenang dan tatapan lurus ke depan. Entah apa yang dia rasakan saat ini.
            Kami menikah bukan karena sebuah ikatan cinta dan kasih. Kami menikah karena sebuah kesepakatan, sebuah perjanjian yang di setujui oleh kami berdua. Bisa di bilang ini adalah sebuah keterpaksaan.
            Tetapi inilah dan di sinilah kisahku di mulai. Kisahku bersama dengan seorang pria yang sudah pernah menikah sebelumnya. Seorang pria yang dulu pernah menjadi teman satu  SMAku. Seorang pria yang dulu pernah aku sukai dalam diam. Seorang pria yang pernah mengambil first kissku. Ya dialah pria itu,,
            Setelah sekian lama berpisah, kini kami harus bersama dalam sebuah ikatan pernikahan tanpa ada cinta.
            Yah, Tanpa Cinta....
            Aku Violeta Andriani, aku gadis kelahiran Jakarta 24 tahun lalu. Saat ini, namaku berubah menjadi Violeta Prasatyo, karena detik inipun aku sudah sah menjadi seorang istri dari Randy Prasatyo.
            Aku tersadar saat sesuatu yang keras dan dingin menyentuh jariku, aku menoleh ke arah tanganku yang ternyata tengah di sematkan sebuah cincin berlian indah oleh suamiku. Aku menoleh padanya yang juga tengah menatap ke arahku. Aku segera mengambil cincin lainnya untuk di sematkan ke jari manisnya. Setelahnya aku mencium tangannya dan dia mengecup keningku dengan begitu khidmat.
            Acara demi acarapun berlangsung dengan khidmat. Hingga malam menjelang, sekarang aku dan dia pulang ke rumah miliknya, bukan hotel ataupun rumah orangtuanya atau aku, melainkan rumahnya. Rumah yang dulu ia tempati bersama mantan istrinya.
            “Kamar utama ada di ujung ruangan di lantai dua, kamu masuklah lebih dulu.” Aku menoleh padanya saat mendengar ucapannya itu. Akupun mengangguk lirih dan beranjak memasuki kamar yang ia tunjukkan.
            Sesampainya di kamar berwarna putih abu yang begitu luas itu, aku berjalan lebih dalam lagi dan menatap sekeliling ruangan. Jangan pikirkan kalau kamarnya di sulap jadi seromantis mungkin, dengan tebaran kelopak bunga mawar, anggur, lilin atau sejenisnya. karena kamar ini begitu bersih, bersih tanpa ada noda sedikitpun. Apalagi tak banyak furniture yang ada di sini, hanya ranjang king size dengan kepala ranjangnya ukiran naga. Lalu meja rias, meja sudut, sofa dan juga pemandangan indah yang mampu di lihat dari jendela kaca yang juga memiliki pintu penghubung ke balkon kamar yang tak terlalu luas. di sudut kanan ranjang, hampir dekat dengat sofa panjang dan juga TV LED ada pintu berwarna putih, aku yakin itu adalah kamar mandi.
            Melihat pintu kamar mandi itu, aku merasa ada panggilan alam yang memintaku untuk segera masuk ke sana dan membasuh tubuhku yang terasa ringkih dan lelah ini. Aku berjalan mendekati pintu itu, dan menekan knop pintu. Kamar mandi ini terdominasi dengan warna gold yang begitu indah hingga seperti emas yang menempel di setiap dinding kamar mandi. Kamar mandinya begitu luas, dengan sebuah jazzuci besar berada di sudut ruangan tepat di dekat ruangan shower. Aku berdiri di depan cermin besar di depan wastafel yang juga memiliki mangkuk besar berwarna gold. Tepat di belakangku ada sebuah ruangan tanpa pintu, hanya tirai tipis yang menutupinya. Aku yakin itu adalah walk in closet. Randy tadi sudah bilang kalau pakaianku sudah ada di dalam sana dan tinggal menggunakannya.
            Aku masih tidak bisa menyangka kalau sekarang aku sudah menikah dengan Randy Prasatyo, teman sekelasku dulu waktu SMA. Walau usia kami terpaut satu tahun, karena Randy berusia 25 tahun saat ini. Aku masih tak percaya akan kenyataan ini, Randy adalah siswa terpopuler di sekola kami saat itu, banyak sekali wanita yang menginginkan menjadi kekasihnya. Berbeda denganku, aku hanya seorang siswi dari anggota OSIS yang tak begitu terkenal. Walau kami sekelas, tetapi hubungan kami tak dekat dan saling tegur sapa. Dia terlalu sibuk dengan kepopulerannya hingga tak mampu melihatku. Dia juga pria yang dulu mencuri ciuman pertamaku. Itu kejadian yang membuatku sakit hati sekaligus bahagia. Karena aku tak memungkiri kalau aku memang menyukainya sama seperti gadis-gadis lain. Tetapi aku lebih senang memendamnya daripada mengumbarnya seperti wanita lain.
            Saat itu aku mendapat tugas untuk membersihkan ruangan OSIS, dan saat aku keluar ruangan tiba-tiba saja seseorang menarik tubuhku dan mencium bibirku. Aku yang berusaha mengumpulkan kesadaranku langsung mendorong tubuh pria itu yang tak lain adalah Randy. Aku melotot ke arahnya yang terlihat mengusap bibirnya dengan senyuman mengerikannya. Dia bilang ke temannya kalau dia memenangkan taruhan itu, dengan mencium seorang anggota OSIS. Mendengar itu semua aku ingin sekali marah, tetapi aku tak mampu melakukan apapun. Dia pergi begitu saja dengan membisikan kata menjijikan. Dan dari sejak saat itu aku memutuskan akan melupakannya dan tak akan pernah mengakui kalau aku pernah menyukai pria sombong itu.
            6 tahun aku tidak pernah bertemu dengannya, 6 tahun juga aku tak pernah mendengar kabar darinya. Aku sibuk dengan kuliahku dan Faisal, mantan kekasihku sebelum akhirnya aku bertemu kembali dengan Randy.
            “Violet,”
            Panggilan itu menyadarkanku dari semua kenangan yang telah berlalu. Aku mengerjapkan mataku berkali-kali dan menatap pantulan diriku di depan cermin besar di hadapan itu. Wajahku terlihat cantik dan begitu pangling, karena riasan itu. Aku mengangkat kedua tanganku untuk menggapai zipper yang ada di belakang gaun putih yang ku kenakan, tetapi gerakanku terhenti saat pintu di buka begitu saja membuatku terlonjak kaget.
            “Ran, em- ada apa?” tanyaku saat Randy berdiri di ambang pintu menatapku dengan intens.
            “Cepatlah membersihkan dirinya, ada yang ingin aku bicarakan.” Setelah mengatakan itu, iapun berlalu pergi meninggalkanku sendiri.
            Aku segera mengunci pintu kamar mandi setelahnya aku membersihkan diriku di bawah guyuran shower.
            30 menit sudah aku menyelesaikan ritual mandi dan memakai gaun tidur yang menutupi seluruh tubuhku. Syukurlah ada banyak pilihan pakaian yang memang layak di gunakan, aku tidak ingin memakai gaun tipis atau lingerie di depan Randy. Aku melangkahkan kakiku keluar kamar mandi, dan langsung di sambut oleh tatapan tajam milik Randy yang duduk dengan angkuh di sofa yang berada tepat di depan pintu kamar mandi.
            “Duduklah,” ucapnya dengan nada perintah membuatku mau tak mau berjalan ke arah sofa yang ada di sebelah kirinya dan duduk di sana dengan berusaha menampilkan wajah datarnya.
            “Aku ingin membahas mengenai pernikahan ini. Kamu tau bukan, kalau aku menikahimu karena aku terpuruk di gugat cerai oleh istri pertamaku.” Aku menganggukkan kepalaku menyetujui perkataannya. “Dan kau juga yang gagal menikah dengan kekasihmu, yang kau pacari 5 tahun ini.” Mendengar ucapannya entah kenapa seperti di siram air keras tepat di hatiku.
            Faisal....
            Dia mundur begitu saja saat acara pernikahan kami sudah berada di depan mata, sebulan lagi kami menikah dan dia tiba-tiba saja mundur dengan alasan belum siap. Yah, keluargaku murka, dan bukan hanya itu akupun terpuruk. Apalagi Faisal mendadak hilang begitu saja, keluarganya pun malah meminta maaf dan tak bisa membantu apapun. Aku menyerah dan putus asa, hatiku hancur berkeping-keping hingga aku bertemu kembali dengan Randy. Dan sialnya Randy menawarkan kesepakatan yang sangat konyol dan gila, dan lebih gila lagi karena aku menyetujuinya.
            “Ini adalah surat kontrak pernikahan kita,” ucapnya membuatku menoleh padanya dan menatap ke arah kertas yang ada di hadapannya.
            “Apa yang kau harapkan dariku?” tanyaku dengan nada dingin.
            “Anak!”
            Deg
            “Aku ingin kau memberiku seorang anak, setelah itu kita akan bercerai dan hak asuh anak akan jatuh kepadaku.”
            “What The Hell?”
            Aku memekik tanpa sadar. Apa maksud pria gila ini...
            “Kau tidak perlu kaget Violeta, aku akan menjamin segalanya, perekonomianmu dan keluargamu. Aku akan terus menjaminnya seumur hidupmu dengan syarat kau tidak akan pernah muncul di hadapanku dan anakku suatu saat nanti. Aku ingin anakku mengenal Soraya sebagai Ibunya.”
            “Soraya?”
            “Yah, setelah menceraikanmu. Aku akan menikah kembali dengan Soraya,” ucapnya tanpa ekspresi.
            “Kau begitu serakah Randy! Kau pikir hartamu bisa membayar harga seorang Bayi?” tanyaku dengan sinis. “Aku memang gila saat itu karena begitu saja menerima lamaranmu tanpa berpikir apa maksud dari lamaran mendadakmu itu, tetapi saat sekarang aku mengetahuinya seperti ini. Aku lebih baik tidak menikah sama sekali, dan berusaha menutupi semua kerugian yang di alami keluargaku tanpa bantuanmu!” aku mengatakannya dengan lantang dan menatap matanya dengan tajam.
            “Kalau kau ingin menikah lagi dan bercerai denganku, maka lakukan sekarang juga! Ayo kita bercerai sekarang juga, jangan pernah berharap aku akan memberimu seorang anak!”
            Aku menantangnya, walau aku tau tatapannya sudah menggelap menahan emosinya. Tetapi sungguh aku tidak perduli. Hanya wanita gila dan berhati iblis yang rela menjual anak kandungnya demi harta semata.
            “Kau tidak punya pilihan, Vi.” Dia mengatakannya dengan begitu tenang. “Karena aku tidak akan menceraikanmu sebelum kau hamil.”
            “Dan kalau kau menolak melayaniku, maka aku akan dengan senang hati memperkosa istriku sendiri!”
            Deg
***

MARRIAGE WITH MR. OLD


Prolog
                “Sah!”
                Seruan itu memenuhi rumah dimana akad nikah pasangan ini di gelar.
                Kiara menghela nafasnya dan menatap Tante yang berada di sisinya dengan sendu.
                “Sekarang kamu sudah menjadi seorang istri dari seorang pria. Tante sangat terharu,” seru wanita itu penuh ke Ibuan.
                Kiara hanya menampilkan senyuman kecil di bibirnya. Sesungguhnya hatinya tidaklah bahagia.
                Bagaimana bisa ia bahagia, ia di jodohkan begitu saja dengan teman dari Pamannya yang usianya jauh di atasnya. Dan dirinya masih 18 tahun, baru saja lulus Sekolah Menengah Atas.
                Apa yang akan ia hadapi kedepannya, sebagai seorang istri dari pria yang ia ketahui begitu dingin dan jarang sekali berbicara.
                Bagaimana nanti kehidupan rumah tangganya?





Satu
                Kiara menatap rumah besar itu dengan tatapan penuh kekaguman.
                Wow...! batinnya.
                Ia tidak menyangka pria yang kini menjadi suaminya begitu kaya raya dan seorang Milyader. Rumahnya ini bak seperti istana di dalam cerita dongeng.
                “Kamar kita di lantai atas,” seruan itu membuat Kiara menoleh ke sumber suara.
                Pria itu tampak dingin dengan setelan formalnya.
                “Kamar kita?” gumam Kiara sempat bergidik.
                Astaga dia lupa sekarang dia ini siapa. Kenapa harus kaget mendengar kata kamar kita.
                “Salah satu pelayan akan mengantarmu ke kamar, beristirahatlah.” Pria itu berbalik ke arah pintu meninggalkan Kiara begitu saja dalam kebingungan.
                “Tuan!”
                Pria tadi menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Kiara.
                “Emm anda mau kemana?” tanya Kiara entah kenapa menatap tatapan tajam itu membuatnya menjadi gugup.
                “Kantor.”
Setelah mengatakan itu, pria itu melanjutkan langkahnya dengan tenang dan elegant meninggalkan Kiara dalam kedongkolan.
                “Mari Nyonya, saya antar anda ke kamar utama,” seru salah satu pelayan menyadarkan Kiara.
                “Panggil Kiara saja,” jawabnya dan berjalan mengikuti pelayan perempuan itu.
                Kiara sampai menganga melihat situasi sekitar yang sangat luas dan sangat mewah terdapat lorong dan beberapa ruangan yang membuat Kiara pusing sendiri. Ia bahkan tak yakin akan mengetahui jalan menuju area lain.
                “Ini kamar anda, Nyonya. Silahkan.”
                Kiara masuk ke dalam kamar yang dua kali lebih luas dari miliknya. Kamar itu berwarna putih dan sangat membosankan, kontras sekali dengan pemilik kamar ini.
                Koper yang di bawa pelayan tadi, di bawanya dan di rapihkan dalam ruangan walk in closet. Kiara masih mematung menatap sekeliling kamar yang tak banyak perabotan.
                Menurutnya mubajir sekali memiliki kamar begitu luas dan tidak begitu banyak barang di dalamnya.
                “Semua barang telah saya rapikan, apa masih ada yang anda butuhkan?” tanya pelayan itu.
                “Tidak ada, terima kasih.”
                Pelayan itu mengangguk dan berpamitan pergi.
                Kiara berjalan mendekati sisi ranjang seraya melepaskan tas ransel yang sejak tadi ia gendong. Ia membuka tas itu dan mengeluarkan pigura kecil dari dalam sana.
                “Ma, Pa,” gumamnya mengusap foto yang ada di dalam pigura itu.
                “Kini aku sudah menikah dengan seorang pria bernama Abian Bima Adirajada. Dia adalah teman dari Paman,” seru Kiara.
                “Aku tidak mengenalnya, memang sih aku sudah beberapa kali bertemu dengannya saat ia datang ke rumah menemui Paman. Tetapi kami sama sekali tidak pernah saling menyapa atau berkomunikasi. Dia juga bahkan tidak melamarku, Paman dan Bibi menikahkan kami.”
                “Apa keputusanku salah, Ma, Pa? Aku hanya tidak ingin terlalu lama merepotkan Paman dan Bibi. Mereka masih memiliki anak-anak yang harus mereka perhatikan,” seru Kiara.
                “Kini aku juga di bawa ke Jakarta, kota yang bahkan tak pernah aku datangi sekalipun. Aku tidak tau rencanaku ke depannya akan bagaimana, dan bagaimana dengan cita-citaku. Aku sungguh tidak tau.”
                “Ma, Pa, sekarang Kiara sudah menyandang status Nyonya Abian yang sepertinya dia orang penting. Rumahnya saja sudah seperti istana di kerajaan, begitu besar dan mewah. Aku sungguh merasa sangat asing di sini.”
                Kiara menghela nafasnya dan kembali menatap sekeliling kamar. Merasa tak ada yang bisa ia lakukan, ia akhirnya memutuskan untuk mandi dan beristirahat saja.
                Abian masuk ke dalam kamarnya dan mata tajamnya langsung menangkap sosok mungil yang tengah terlelap, bergelut di balik selimut tebal nan halus.
                Ia berjalan mendekati Kiara dan mengambil duduk di sisi ranjang. Ia menatap wajah imut nan cantik Kiara, tangannya terulur merapihkan anak rambut yang menutupi wajah cantiknya.
                Abian menunduk mendekati Kiara dan mengecup keningnya. Kecupan singkat darinya, tetapi ia masih menatap wajah Kiara dari dekat tanpa ingin menjauhkan wajahnya.
                Tatapan tajamnya kini turun ke bagian bibir tipis merah milik Kiara yang begitu menggoda. Bibir yang tampaknya masih begitu ranum dan polos belum di jambah oleh pria lain.
                Cukup lama Abian menatap bibir itu, dan mendekatinya. Ia mengecup pelan bibir itu yang entah kenapa memberi getaran aneh pada tubuhnya.
                Abian melihat ke arah mata Kiara yang masih terlelap. Entah kenapa ia tak ingin melepaskan dan mengabaikan bibir ranum itu.
                Ia kembali mengecup bibir Kiara dan sedikit melumat bibir bawahnya membuat Kiara terusik. Abian menjauhkan wajahnya dari Kiara dan menatap Kiara yang masih terlelap. Tatapannya kembali ke bagian bibir Kiara yang basah karenanya.
                Entah kenapa rasanya ia ingin mengecupi dan melahap habis bibir ranum itu yang terasa manis dan berpengaruh kepada tubuhnya.
                Abian akhirnya memilih menghentikan kegiatan mencuri ciuman itu dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
                ~~~
                Kiara bangun dari tidurnya, ia mengucek kedua matanya dan merenggangkan kedua tangannya.
                “Jam berapa yah ini,” gumamnya menutup mulutnya yang menguap.
                “Tujuh.”
                Jawaban itu langsung membuat Kiara menoleh ke sumber suara.
                “Ah...!” Kiara menjerit seraya menutup mata dengan kedua tangannya.
                “Apa?”
                “Ke-kenapa Tuan tidak memakai baju?” seru Kiara wajahnya terasa memanas.
                Abian tampak santai dengan tubuh polosnya dan hanya menggunakan handuk yang di lilit di pinggangnya.
                “Kenapa? Aku suamimu.”
                Jawaban singkat nan datar itu semakin membuat Kiara malu sekaligus kesal. Ini orang kenapa begitu irit berbicara, apa kapasitas suara dan katanya terbatas.
                Kiara melihat Bian berjalan menuju walk in closet, dan itu kesempatan Kiara melesat cepat masuk ke dalam kamar mandi dan menyembunyikan diri dari pemandangan yang Eeerrr... menggiurkan hasrat.
                ~~~
                Saat ini Kiara dan Abian sedang menikmati makan malam mereka dalam diam. Tak ada yang bersuara selain dari suara dentingan sendok dan garpu. Sesekali Kiara melirik ke arah Bian yang tampak fokus dengan elegant pada makanannya. Cara makan Abian juga terlihat begitu rapi dan sangat elegant.
                Selesai makan, mereka masih diam dan meneguk minuman dalam gelas.
                “Aku akan kembali ke kamar,” seru Kiara ingin segera melarikan diri dari suasana mencengangkan ini.
                “Tunggu!”
                Kiara mengernyitkan dahinya mendengar seruan Abian. Ia kembali duduk di tempatnya dan menatap ke arah lain tak ingin beradu tatapan dengan Bian.
                “Ini handphone untukmu,” ucap Abian menyerahkan Iphone keluaran terbaru ke arah Kiara. “Cari tau kampus dan jurusan yang kamu inginkan di kota ini. Nanti akan aku daftarkan.”
                Tumben... ini adalah kalimat terpanjang yang di ucapkan oleh tuan irit berbicara itu.
                “Ini terlalu mahal dan mewah,” seru Kiara saat melihat Iphone yang sangat mewah dan bagus.
                “Kamu harus terbiasa dengan semua barang ini.” Abian beranjak dari duduknya dan berlalu pergi meninggalkan Kiara yang hanya menatapnya dongkol.
                “Cepat katakan padaku kalau sudah menentukan pilihan,” serunya dengan nada datar membuat Kiara semakin dongkol.
                Ya Allah, kenapa aku memiliki suami model begini? Tampan sih jangan di tanya, tetapi kenapa begini? Kiara membatin dalam kedongkolannya.